Featured
Showing posts with label KajianRamadhan. Show all posts
Showing posts with label KajianRamadhan. Show all posts

Tuesday, July 21, 2020

Bersegera Raih Mahabatullah



Mahabatullah artinya kecintaan Allah
Jika Allah sudah cinta kepada kita, maka kita akan menemukan ketenangan hidup di dunia..

Manusia telah diberi kelebihan oleh Allah, diantaranya adalah : 
  1. Allah anugrahkan kepada manusia akal/otak yang berbeda dengan otak binatang. Akal bisa memuliakan manusia juga dapat menghinakannya.. Akal bisa membuat manusia menjadi sombong jika tidak dibarengi dengan akidah.
  2. Allah berikan nafsu ke dalam diri manusia : Jika nafsu diatas diakal, maka manusia bisa lebih rendah daripada binatang. Jika akal yang mengatur nafsu, maka kita bisa mengendalikan nafsu tersebut.
Akal dan nafsu ini harus sama-sama dibina dengan cara membentuk dan mengokohkan aqidah Islam pada individu.

Cara untuk menjadikan aqidah islam sebagai asas bagi aqiliyah dan nafsiyah :
1. Hanya mau mengambil keputusan tentang benda/perbuatan sesuai dengan hukum syara.
2. Hanya memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan fisik

Sedangkan cara membentuk nafsu agar bisa dibina oleh akal kita yaitu dengan :
1. Memperbanyak asupan untuk akal-akal kita: baca buku bermanfaat, ikut kajian
2. Memperbanyak amal-amal sunnah

Orang yang akal dan nafsunya sudah terbina oleh Allah dengan amalan-amalan sunnah, maka mereka akan tegar menghadapi segala cobaan dan dia akan menjadi kekasih Allah..

Pertolongan dalam meraih kemenangan hanya diberikan oleh Allah kepada kekasihNya. Maka bersegeralah kita meminta ampunan kepada Allah SWT..


أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Apakah kamu hadir saat maut akan menjemput Ya'qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya." "(Q.S.2 : 133)

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).


Kita harus bersegera meraih Mahabatullah, karena orang-orang mukmin yang beruntung mendapat kemenangan adalah mukmin yang berkata : "kami mendengar dan kami patuh" sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur'an :


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Apabila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara diantara mereka, hanya orang-orang mukmin yang berkata, "Kami mendengar dan kami taat." Mereka itulah orang-orang beruntung."  (Q.S.24 An-Nur : 51)


Makna dari ayat tersebut adalah bahwa sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar perkataannya, dan kami patuh terhadap perintahnya.' Dan orang-orang yang memiliki sifat seperti ini adalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di Akhirat. Sedangkan orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya akan celaka.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

"Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, tidaklah pantas bagi laki-laki dan perempuan mukmin untuk membuat pilihan lain. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." (Q.S.33 Al ahzab: 36)

Orang beriman akan patuh dan taat atas segala perintah Allah dan sunnah rasul.. 


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan sehingga tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Q.S.4 An-Nisa: 65)

Maksud "keberatan dalam hati" di ayat ini menunjukkan bahwa keberatan terlarang itu bukan terbatas pada ucapan dan perilaku, tetapi termasuk juga keberatan yang tidak dicetuskan selama terlintas dalam benak dan hati mereka, walaupun lintasan itu hanya mereka sendiri yang tahu.

Orang yang ingkar akan masuk ke neraka jahannam, maka kita pun diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa neraka. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S.66 At-Tahrim: 6)

Agar bisa meraih Mahabatullah, kita pun harus mengetahui dan mencontoh bagaimana cara Rasul mendekat kepada Allah.

Adapun Rasul mendekat kepada Allah dengan cara:
1. Bersegera sedekah
2. Bersegera dalam kebaikan
3. Bersegera dalam ketaatan pada Allah
4. Bersegera meninggalkan yang haram
5. Bersegera dalam berkerudung/jilbab (Q.S.33 Al-Ahzab : 59) & (Q.S.24 An Nur : 31)
6. Bersegera meninggalkan sutra. Dalam Islam, laki-laki dilarang menggunakan sutra. Perempuan boleh.

Dalam salah satu hadis disebutkan, "Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya. Maka beruntunglah orang-orang asing itu." (H.R. Muslim)

Dahulu, para Sahabat r.a beriman dan bersegera dalam melaksanakan perintah Allah.. maka mereka pun mendapatkan mahabatullah.

Untuk sampai ke surga/neraka, kita harus melewati 4 terminal terlebih dahulu, yaitu :
1. Alam rahim
2. Alam dunia
3. Alam kubur
4. Alam hisab

Setelah melewati 4 alam itu, maka kita akan melewati As-Shirat, yaitu jembatan dari sehelai rambut dibagi tujuh. Dan kita pun akan masuk ke surga/neraka.
Ada sebagian kecil dari umat rasulullah yang melewati jembatan itu seperti kilat, langsung masuk surga, mereka itu adalah syuhada. Dan sebagian kecil yang melewati jembatan itu secara perlahan tapi selamat. Dan ada sebagian besar dari umat Rasul yang syafaat Rasul tidak dapat menolongnya, maka dia akan terjatuh ke dalam neraka.


Sumber :
KISS (Kajian Islam Selama Sepekan) /Kajian Khusus Ramadhan
Hotel Horison Bandung, 22 Mei 2018. 
Ust. Fatih Karim

Monday, August 22, 2016

Anakku AmanahMu





Ada beberapa hal tentang anak yang harus kita pahami, yaitu :

I. Anak itu sebagai perhiasan hidup.
Rasul melarang kita berbicara yang jelek-jelek terhadap anak kita, walaupun kita sedang marah terhadap anak. Karena anak juga harus dihargai, harus dijaga perasaanya agar tidak terluka. Jadi, ucapkanlah selalu kata-kata yang positif terhadap anak, termasuk saat menasehatinya. Contohnya, jika anak susah mandi, akan lebih enak didengar dan diterima oleh anak jika kita menasehatinya dengan perkataan yang baik, seperti : "Nak.. mandi dulu ya biar badanmu segar, wangi dan sehat.." ketimbang menasehatinya dengan perkataan yang dapat melukai hati anak, seperti : " Nak.. mandi dulu biar badanmu gak bau seperti itu.."  Mungkin hal ini sering dianggap sepele, tetapi perkataan yang tidak baik itu bisa membekas di hati anak dan menurunkan rasa percaya diri pada anak.

II. Anak bisa merupakan fitnah atau ujian hidup bagi kita.  
Seperti dijelaskan dalam Al Qur'an : 




" Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar." (Q.S. An Anfal 8; 28) 

Oleh karenanya, kita harus tetap berkata dan bersikap baik terhada anak walaupun anak tersebut mengecewakan kita.

III. Anak bisa menjadi musuh bagi kita.
Terkadang anak bisa menghalangi kita untuk beramal shaleh atau beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai gara-gara anak kita tidak bisa beribadah atau anak dijadikan alasan untuk tidak beribadah. Contohnya, kita sampai meninggalkan sholat dengan alasan tidak sempat karena sibuk mengurus segala keperluan anak.

Hal ini dipertegas oleh ayat-ayat Al Qur'an sebagai berikut :




" Hai orang-orang beriman! sesungguhnya di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S.At-Taghaabun 64;14)




" Hai orang-orang beriman! janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapapun yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Q.S.Al-Munaafiquun 63;9)

Kita tidak boleh lupa kepada Allah karena anak. Karena itu, kita dilarang melahirkan anak yang lemah, tetapi harus melahirkan anak yang sholeh, dengan cara :

  1. Hendaklah kita punya rasa khawatir pada anak,
  2. Bertakwa pada Allah untuk melahirlan anak yang shaleh,
  3. Berkata yang baik. Berkata yang baik bukan berkata secara pelan-pelan, tetapi sesuai dengan kaidah agama, jujur apa adanya.


Karena anak adalah amanah dari Allah, tentunya kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu kita harus mendidik anak agar menjadi shaleh.

Beberapa hal yang menjadi pemicu kenakalan anak yang harus kita perhatikan adalah sebagai berikut  :


  1. Kegersangan cinta; dalam hal ini berarti kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua.
  2. Suka dipukul dan dipermalukan; salah satu contohnya, jangan pernah memarahi anak didepan banyak orang atau teman-temannya.
  3. Munculnya kemiskinan; jika kita sedang kekurangan materi atau sesuatu, harus disampaikan kepada anak dan minta pengertian dari anak.
  4. Di jaman sekarang memang kita tidak mungkin menghindari internet dan gadget pada anak, maka antisipasi nya dari orangtua adalah berdialog secara terbuka dengan anak, dekati anak dan ajak berdialog secara halus mengenai teman-teman dan hal-hal lainnya.


Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah Swt untuk bisa menjadi orangtua yang shaleh, bijaksana dan melahirkan anak-anak yang shaleh pula.. Aamiin YRA...


Sumber : Kajian Islam Selama Sepekan (KISS) Ramadhan 1437 H,  Majelis Taklim Ummahatul Firdaus, oleh Ust. Ahmad Humaedi.

Sumber Gambar : Google.co.id

Wednesday, August 17, 2016

Mengenal Golden Age Dalam Islam





Manusia awalnya berada pada masa yang tidak dapat diberikan nama sekalipun, kemudian Allah menjadikan nya sempurna melalui proses biologis dari air mani terbaik dan dijadikan bisa mendengar dan melihat, maka manusia pun bisa bersyukur ataupun jadi kufur, karena manusia punya kecenderungan baik dan buruk.  Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur'an sebagai berikut ; 





" Bukankah pernah datang kepada manusia suatu masa, yang ketika itu ia belum menjadi sesuatu yang bisa disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sel sperma yang membuahi ovum. Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), lalu Kami jadikan manusia bisa mendengar dan melihat. Sesungguhnya, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (Q.S.Al-Insaan 76 : 1-3)  

Maksud dari ayat diatas antara lain adalah : Manusia harus sadar bahwa dirinya berasal dari "ia belum menjadi sesuatu", bahkan tidak punya nama. Oleh karena itu, manusia tidak boleh takabur, karena berasal hanya dari sel sperma yang sangat lemah. Pada prinsipnya, Allah telah menunjukkan jalan kebaikan dan kebenaran kepada manusia. Namun, manusia sendirilah yang menentukan apakah ia akan mengambil jalan lurus untuk menjadi orang yang bersyukur atau mengambil jalan kufur.




" Katakan, "Allah-lah yang menciptakanmu dan menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati nurani". Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (Q.S.Al-Mulk 67 : 23)



"...demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (Q.S.As-Syams 91: 7-10). 


Manusia yang bisa menahan diri dari dorongan buruk, maka akan beruntung dan mendapatkan surga dari Allah, seperti dijelaskan dalam Al Qur'an :




" Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya."  (Q.S. An-Naziat 79 ; 40-41)

Seseorang yang terjerumus dalam dosa bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal dapat dihindari dengan pandai memilih teman, karena persahabatan pun suka mencuri tabiat. Contohnya, saat kita akan pergi ke majelis ilmu atau pengajian, tiba-tiba tidak jadi pergi karena teman yang diajak pun tidak mau pergi atau malah mengajak ke tempat-tempat hiburan. Sedangkan faktor internal dapat dihindari dengan cara banyak berdoa, minta kepada Allah Swt agar diberi kekuatan dan teman yang sholeh. Jika yang muncul pada diri kita adalah sifat-sifat yang baik, maka kita akan menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi selanjutnya. Maka berdoalah seperti doa nabi Ibrahim: 




" Ibrahim berdo'a, "Ya Tuhanku, berikanlah ilmu kepadaku dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahku, jadikan aku orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan." (Q.S.Asy-Syu'araa 26 ; 83-85)

Pada saat manusia dibangkitkan dan tiap orang hanya mengurusi diri sendiri, orang-orang yang selalu memunculkan dorongan-dorongan baik pada dirinya, wajahnya akan tersenyum bahagia. Sebaliknya, yang selalu memunculkan dorongan-dorongan buruk, akan berwajah muram. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an : 



" Maka, apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, serta dari istri dan anak-anaknya. Pada hari itu, setiap orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira, dan pada hari itu ada pula wajah-wajah suram, yang tertutup oleh kehinaan dan kesusahan. Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka." (Q.S. Abasa 80 ; 33-42).

Selain itu, orang yang selalu mengasah jiwanya dengan dorongan yang baik, akan dipanggil dengan jiwa yang tenang dan Allah pun meridhoinya. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an:



 " Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." (Q.S.Al Fajr 89 : 27-30).

Yang termasuk ke dalam golongan hamba-hamba pilihan Allah dalam ayat diatas adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur'an sebagai berikut: 



"Siapapun yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu : para nabi, para pecinta kebenaran (shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (Q.S.4:69). 



" Yaitu syurga 'Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu."  (Q.S.Ar-Ra'ad 13 : 23).

Jadi, yang termasuk golongan hamba-hamba pilihan Allah dalam dua ayat diatas yaitu: para nabi, para pecinta kebenaran (shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh serta orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya.


Semoga bermanfaat...


Sumber : Kajian Islam Intensif Istiqamah Ramadhan, 6 Juni 2016 oleh Ust. Aam Amiruddin. 

Sumber Gambar : Google.co.id

Copyright © 2015 Catatan Kajian Majelis Taklim Bandung
| Distributed By Gooyaabi Templates