Featured

Wednesday, July 10, 2019

Melawan Ego




Meminta maaf itu sulit, tapi balasan dari Allah sungguh luar biasa. 
Dan balasan itu tergantung dari tingkat kesulitan dalam beramal. 
Makin berat ego yang harus kita lawan, makin besar pahalanya.
.
Seorang Rasul saja meminta maaf kepada umatnya. 
Lalu siapa kita, suami/istri yang sulit meminta maaf pada pasangannya? 
Lalu siapa kita? Anak yang sulit meminta maaf pada orang tuanya? 
Lalu siapa kita? Seseorang yang sulit meminta maaf pada saudaranya.
.
Obat ego itu adalah iman.
Karena yakin, semua yg dilakukan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 
Dan Allah cinta ‘banget’ pada orang yang meminta maaf. 
Jadikan semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah.
Meminta maaf untuk Allah.
Memaafkan untuk Allah.
Menahan amarah untuk Allah.
Semua kebaikan didunia untuk Allah.
Kalau bukan karena Allah kita tidak sanggup.
Maka jangan meminta maaf untuk orangnya, tetapi untuk Allah. 
Maka Allah akan melapangkan dada kita untuk meminta maaf. 
.
Iman mengalahkan ego. 
Orang yg beriman akan bisa melawan ego dalam segala hal. 
Maka lebih baik meminta maaf selagi di dunia (selesaikan di dunia), daripada dibawa sampai ke akhirat akan menjadi berat pertanggungjawabannya. 
.
“Lawan Ego”
Bersama : ustadz Hanan Attaki
Qori : Imam Mubarak
Sabtu, 17 Februari 2018
Masjid Agung TSB, Bandung

.
#shafmuslimah #shafmuslimah.bdg #ustadzhananattaki #imammubarok #masjidagungtsb #bandung #indonesia

Wednesday, March 6, 2019

Hidayah Itu Dijemput Bukan Ditunggu




Orang yang mendapat hidayah akan merasa ringan dalam menjalankan segala perintah Allah.. Hal ini dijelaskan dalam Q.S.6.Al An'am : 125 sebagai berikut :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

" Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (6.Al-An'ām : 125)

Tangga menuju hidayah:


1. Harus ikhtiar/usaha. 
Untuk mendapatkan hidayah, kita tidak bisa hanya diam tetapi harus berikhtiar, seperti halnya ikhtiarnya nabi Ibrahim dlm mencari Tuhan nya, yang dijelaskan dalam Q.S.6. Al An'am :74-79 sebagai berikut :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

" Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, "Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan Kami yang terdapat di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu dia berkata, "Inilah tuhanku." Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, "Aku tidak suka kepada yang terbenam.Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, "Inilah tuhanku." Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar." Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.""  (6.Al-An'ām : 74-79)


2. Belajar ilmu hidayah
Sumber hidayah yang paling utama adalah Al Qur'an. Maka dari itu, kita harus belajar ilmu yang ada di dalam Al Qur'an, seperti dijelaskan dalam Q.S.2.Al Baqarah : 2 dan Q.S.39. Az Zumar : 53-56 sebagai berikut :


ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

" Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (2.Al-Baqarah : 2)


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

" Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya, agar jangan ada orang yang mengatakan, "Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang mengolok-olokkan (agama Allah)," (39.Az-Zumar : 53-56)


3. Membina diri dengan iman. 

Iman itu seperti halnya tanaman, yang harus dirawat dengan baik. Karena keimanan seseorang itu bisa berubah-ubah, maka kita harus selalu merawat keimanan kita agar tidak mati/hilang sama sekali. Hal ini dijelaskan dalam : Q.S.14.Ibrahim : 24-25, Q.S.39. Az-Zumar :18, dan Q.S.47.Muhammad :17 sebagai berikut : 

  .أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

" Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat." (14.Ibrāhim : 24-25)


الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

" (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat." (39.Az-Zumar : 18)

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

" Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka." (47.Muhammad : 17)


4. Melatih diri dengan amal shaleh.
Kita harus selalu melatih diri untuk melakukan amalan sholeh, hidayah akan diberikan Allah karena keimanan kita. Seperti dijelaskan dalam Q.S.10.Yūnus : 9 sebagai berikut : 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai." (10.Yūnus : 9)



Cara menjemput hidayah :

1. Berdoa utk diri sendiri dan anak-anak kita
, supaya qalbu kita selalu lurus dan nikmat dalam melakukan kebaikan. Doa untuk diri sendiri bisa kita ambil dalam Q.S.3.Ali Imron : 8 sebagai berikut :




(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (3.Ali Imron : 8)

Sedangkan doa untuk anak-anak atau keturunan kita, bisa kita ambil dari : Q.S.25.Al Furqan : 74



"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (25.Al Furqan : 74)

2. Bersahabat dengan orang shaleh. 
Mempunyai teman yang sholeh ini merupakan salah satu cara kita agar bisa mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Karena teman yang sholeh akan selalu mengajak kita kepada kebaikan. Hal ini dijelaskan dalam Q.S.26.As-Syu'ara : 83-85 dan Q.S.25.Al Furqan : 27-39 sebagai berikut :  


.رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ. وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ. وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ


"(Ibrahim berdoa), "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan,"" (26.Asy-Syu'arā : 83-85)


وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا. يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا.  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا. وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا. وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا.  وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا.  وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا.  الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلً

" Dan (ingatlah) pada hari ketika orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, "Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia." Dan rasul (Muhammad) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan." Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. Dan orang-orang kafir berkata, "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar). Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu membawa sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. Orang-orang yang dikumpulkan di Neraka Jahanam dengan diseret wajahnya, mereka itulah yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya." (25.Al Furqan : 27-39)


3. Membaca, menghayati dan mengamalkan sumber hidayah, yaitu al qur'an.
Dalam Q.S.81.At Takwir : 26 disebutkan bahwa : 



" maka ke manakah kamu akan pergi?" (81.At Takwir : 26)

Maksud dari ayat ini adalah setelah diterangkan bahwa Al Qur'an  itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada pelajaran dan petunjuk yang membimbing manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, " Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?"
Hal ini menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah sumber hidayah dan petunjuk bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia dan meraih kebahagiaan di akhirat.

4. Pupuk jiwa kita dgn ilmu - ilmu atau ajaran islam. 

Jika kita selalu memupuk jiwa kita dengan ilmu agama atau ajaran Islam, maka Allah pun akan menambahkan petunjuk kepada kita, seperti yang dijelaskan dalam Q.S.47.Muhammad : 17 sebagai berikut : 



" Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya." (47.Muhammad : 17)

5. Melatih diri untuk konsisten dalam beramal. 

Jika kita konsisten dalam beramal shaleh dan berpegang teguh pada kitab suci Al Qur'an dan ketetapan agama, maka akan dijauhkan dari kesesatan walaupun Rasulullah sudah tidak ada bersama kita. Hal ini dijelaskan dalam Q.S.3.Ali Imron : 101 sebagai berikut:



" Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Siapapun yang berpegang teguh kepada agama Allah, sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (3.Ali Imron : 101)


Ciri-ciri orang yang mendapat hidayah :


1. Merasa mudah dalam beramal shaleh..
Orang yang mendapatkan hidayah, akan merasa nikmat dalam beribadah dan mudah dalam melakukan segala amalan yang baik, seperti halnya dijelaskan dalam Q.S.6. Al An'am : 125 sebagai berikut :


فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ


" Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (6.Al-An'ām : 125)

2. Menjadi pendengar terbaik dan mengikuti ajaran terbaik. 

Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an Su.39 : 18 Az Zumar 39 : 18)


الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

" (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat."  (39.Az-Zumar : 18)


3. Hatinya hidup ketika mendapatkan/mendengar peringatan-peringatan Allah, seperti tanah yang dapat menyerap air untuk disimpan sebagai cadangan dan akan menjadikannya subur.. Hal ini dijelaskan dalam Q.S.25.Al Furqan : 73 sebagai berikut:



" Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan, mereka tidak bersikap seperti orang tuli dan buta." (25.AL Furqan : 73)

4. Mampu mengendalikan hawa nafsu.

Salah satu tanda orang yang bertakwa pada Allah adalah dia bisa menahan hawa nafsunya, hawa nafsu terhadap amarahnya dan yang menjurus kepada keburukan/maksiat.
Hal ini dijelaskan dalam Q.S.79.An Naazi'aat : 40-41 sebagai berikut: 


وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ.  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ


" Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)." (79.An Naazi'aat : 40-41)

5. Ada kerinduan pada Allah yang diwujudkan dengan ketekunan dalam beribadah, baik beribadah kepada Allah (vertikal) maupun berbuat baik kepada orang lain (horisontal).  Hal ini dijelaskan dalam Q.S.8.An Anfal : 2-4 sebagai berikut :


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.  الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.  أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ



" Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." (8.Al-Anfāl : 2 - 4)


Sumber : 
Kajian Majelis Percikan Iman, 14 Januari 2018 oleh Ust.Dr. Aam Amiruddin, M,Si



Monday, November 6, 2017

Bukan Milikku




بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

BUKAN MILIKKU…

Puisi terakhir WS Rendra (1935 – 2009)
(di buat sesaat sebelum dia wafat)

Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU,
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku
dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …

Sebab aku yakin….
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku ..

Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri
adalah sebuah KEKAYAAN.

Ketika aku berat untuk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki
juga adalah PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
….aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah
sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA

Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.

Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

Bukan karena MUDAH kita *YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK
yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi LENTERA
yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,maka BERDOALAH untuk kebaikan.

Di-Share karena ini sangat bagus untuk pembelajaran kehidupan kita semua…

Posted by

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

Monday, August 22, 2016

Anakku AmanahMu





Ada beberapa hal tentang anak yang harus kita pahami, yaitu :

I. Anak itu sebagai perhiasan hidup.
Rasul melarang kita berbicara yang jelek-jelek terhadap anak kita, walaupun kita sedang marah terhadap anak. Karena anak juga harus dihargai, harus dijaga perasaanya agar tidak terluka. Jadi, ucapkanlah selalu kata-kata yang positif terhadap anak, termasuk saat menasehatinya. Contohnya, jika anak susah mandi, akan lebih enak didengar dan diterima oleh anak jika kita menasehatinya dengan perkataan yang baik, seperti : "Nak.. mandi dulu ya biar badanmu segar, wangi dan sehat.." ketimbang menasehatinya dengan perkataan yang dapat melukai hati anak, seperti : " Nak.. mandi dulu biar badanmu gak bau seperti itu.."  Mungkin hal ini sering dianggap sepele, tetapi perkataan yang tidak baik itu bisa membekas di hati anak dan menurunkan rasa percaya diri pada anak.

II. Anak bisa merupakan fitnah atau ujian hidup bagi kita.  
Seperti dijelaskan dalam Al Qur'an : 




" Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar." (Q.S. An Anfal 8; 28) 

Oleh karenanya, kita harus tetap berkata dan bersikap baik terhada anak walaupun anak tersebut mengecewakan kita.

III. Anak bisa menjadi musuh bagi kita.
Terkadang anak bisa menghalangi kita untuk beramal shaleh atau beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai gara-gara anak kita tidak bisa beribadah atau anak dijadikan alasan untuk tidak beribadah. Contohnya, kita sampai meninggalkan sholat dengan alasan tidak sempat karena sibuk mengurus segala keperluan anak.

Hal ini dipertegas oleh ayat-ayat Al Qur'an sebagai berikut :




" Hai orang-orang beriman! sesungguhnya di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S.At-Taghaabun 64;14)




" Hai orang-orang beriman! janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapapun yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Q.S.Al-Munaafiquun 63;9)

Kita tidak boleh lupa kepada Allah karena anak. Karena itu, kita dilarang melahirkan anak yang lemah, tetapi harus melahirkan anak yang sholeh, dengan cara :

  1. Hendaklah kita punya rasa khawatir pada anak,
  2. Bertakwa pada Allah untuk melahirlan anak yang shaleh,
  3. Berkata yang baik. Berkata yang baik bukan berkata secara pelan-pelan, tetapi sesuai dengan kaidah agama, jujur apa adanya.


Karena anak adalah amanah dari Allah, tentunya kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu kita harus mendidik anak agar menjadi shaleh.

Beberapa hal yang menjadi pemicu kenakalan anak yang harus kita perhatikan adalah sebagai berikut  :


  1. Kegersangan cinta; dalam hal ini berarti kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua.
  2. Suka dipukul dan dipermalukan; salah satu contohnya, jangan pernah memarahi anak didepan banyak orang atau teman-temannya.
  3. Munculnya kemiskinan; jika kita sedang kekurangan materi atau sesuatu, harus disampaikan kepada anak dan minta pengertian dari anak.
  4. Di jaman sekarang memang kita tidak mungkin menghindari internet dan gadget pada anak, maka antisipasi nya dari orangtua adalah berdialog secara terbuka dengan anak, dekati anak dan ajak berdialog secara halus mengenai teman-teman dan hal-hal lainnya.


Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah Swt untuk bisa menjadi orangtua yang shaleh, bijaksana dan melahirkan anak-anak yang shaleh pula.. Aamiin YRA...


Sumber : Kajian Islam Selama Sepekan (KISS) Ramadhan 1437 H,  Majelis Taklim Ummahatul Firdaus, oleh Ust. Ahmad Humaedi.

Sumber Gambar : Google.co.id

Wednesday, August 17, 2016

Mengenal Golden Age Dalam Islam





Manusia awalnya berada pada masa yang tidak dapat diberikan nama sekalipun, kemudian Allah menjadikan nya sempurna melalui proses biologis dari air mani terbaik dan dijadikan bisa mendengar dan melihat, maka manusia pun bisa bersyukur ataupun jadi kufur, karena manusia punya kecenderungan baik dan buruk.  Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur'an sebagai berikut ; 





" Bukankah pernah datang kepada manusia suatu masa, yang ketika itu ia belum menjadi sesuatu yang bisa disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sel sperma yang membuahi ovum. Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), lalu Kami jadikan manusia bisa mendengar dan melihat. Sesungguhnya, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (Q.S.Al-Insaan 76 : 1-3)  

Maksud dari ayat diatas antara lain adalah : Manusia harus sadar bahwa dirinya berasal dari "ia belum menjadi sesuatu", bahkan tidak punya nama. Oleh karena itu, manusia tidak boleh takabur, karena berasal hanya dari sel sperma yang sangat lemah. Pada prinsipnya, Allah telah menunjukkan jalan kebaikan dan kebenaran kepada manusia. Namun, manusia sendirilah yang menentukan apakah ia akan mengambil jalan lurus untuk menjadi orang yang bersyukur atau mengambil jalan kufur.




" Katakan, "Allah-lah yang menciptakanmu dan menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati nurani". Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (Q.S.Al-Mulk 67 : 23)



"...demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (Q.S.As-Syams 91: 7-10). 


Manusia yang bisa menahan diri dari dorongan buruk, maka akan beruntung dan mendapatkan surga dari Allah, seperti dijelaskan dalam Al Qur'an :




Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya."  (Q.S. An-Naziat 79 ; 40-41)

Seseorang yang terjerumus dalam dosa bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal dapat dihindari dengan pandai memilih teman, karena persahabatan pun suka mencuri tabiat. Contohnya, saat kita akan pergi ke majelis ilmu atau pengajian, tiba-tiba tidak jadi pergi karena teman yang diajak pun tidak mau pergi atau malah mengajak ke tempat-tempat hiburan. Sedangkan faktor internal dapat dihindari dengan cara banyak berdoa, minta kepada Allah Swt agar diberi kekuatan dan teman yang sholeh. Jika yang muncul pada diri kita adalah sifat-sifat yang baik, maka kita akan menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi selanjutnya. Maka berdoalah seperti doa nabi Ibrahim: 




Ibrahim berdo'a, "Ya Tuhanku, berikanlah ilmu kepadaku dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahku, jadikan aku orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan." (Q.S.Asy-Syu'araa 26 ; 83-85)

Pada saat manusia dibangkitkan dan tiap orang hanya mengurusi diri sendiri, orang-orang yang selalu memunculkan dorongan-dorongan baik pada dirinya, wajahnya akan tersenyum bahagia. Sebaliknya, yang selalu memunculkan dorongan-dorongan buruk, akan berwajah muram. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an : 



" Maka, apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, serta dari istri dan anak-anaknya. Pada hari itu, setiap orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira, dan pada hari itu ada pula wajah-wajah suram, yang tertutup oleh kehinaan dan kesusahan. Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka." (Q.S. Abasa 80 ; 33-42).

Selain itu, orang yang selalu mengasah jiwanya dengan dorongan yang baik, akan dipanggil dengan jiwa yang tenang dan Allah pun meridhoinya. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an:



 " Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." (Q.S.Al Fajr 89 : 27-30).

Yang termasuk ke dalam golongan hamba-hamba pilihan Allah dalam ayat diatas adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur'an sebagai berikut: 



"Siapapun yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu : para nabi, para pecinta kebenaran (shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (Q.S.4:69). 



" Yaitu syurga 'Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu."  (Q.S.Ar-Ra'ad 13 : 23).

Jadi, yang termasuk golongan hamba-hamba pilihan Allah dalam dua ayat diatas yaitu: para nabi, para pecinta kebenaran (shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh serta orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya.


Semoga bermanfaat...


Sumber : Kajian Islam Intensif Istiqamah Ramadhan, 6 Juni 2016 oleh Ust. Aam Amiruddin. 

Sumber Gambar : Google.co.id

Friday, August 5, 2016

Menjadi Orangtua Yang Shaleh





Anak adalah amanah Allah yang harus kita jaga dan didik dengan baik, sehingga bisa menjadi anak yang sholeh dan takwa pada Allah Swt. Untuk mendidik anak menjadi shaleh tentunya harus mendapatkan teladan yang baik juga dari orangtua nya. Maka orangtua pun harus bisa menjadi orangtua yang shaleh.

Untuk menjadi orangtua yang baik dan sholeh, terlebih dahulu harus mengetahui tipe-tipe anak.

Ada 3 macam tipe anak menurut Islam :

  1. Zinatul hayat, yaitu anak yang bisa mengangkat martabat orangtua.
  2. Fitnatun, yaitu anak yang menjadi sumber penderitaan bagi orangtua.
  3. Qurata'ayun, yaitu anak yang menjadi penyejuk hati orangtua. (q.s. al furqan:  )


Tentu kita sebagai orangtua tidak mengharapkan mempunyai anak dengan tipe fitnatun, maka orangtua pun harus membangun pilar-pilar keshalehan di lingkungan rumah.

Ada 4 pilar yang harus dibangun di lingkungan rumah yang sholeh :

  1. Kekuatan agama, bisa dibangun dengan cara mendengarkan ceramah secara bersama-sama atau melakukan ibadah secara berjamaah.
  2. Kekuatan cinta, karena semua sifat yang baik ada pada cinta. Pemaaf, husnudzan, membalas keburukan dengan kebaikan, dll. Semua sifat baik itu tidak mungkin ada tanpa cinta.. Allah akan memberikan kebaikan pada keluarga yang penuh cinta.
  3. Kekuatan kata-kata, karena kata-kata merupakan doa, jadi kita harus selalu mengucapkan kata-kata yang baik kepada anak-anak, termasuk saat sedang marah sekalipun, seperti disebutkan dalam Al Qur'an :  
    "
    Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar." (Q.S.An-Nisa 4 ; 9). Ayat ini menjelaskan bahwa orangtua harus berusaha meninggalkan anak-anak yang shaleh, berkualitas, sejahtera, sehat dan cerdas, dengan cara bertakwa kepada Allah dan menjaga tutur kata.
  4. Kekuatan sejarah, semua orang pasti akan meninggalkan cerita atau sejarah. Oleh sebab itu, tinggalkanlah sejarah yang bagus untuk dikenang oleh anak-anak kita. Seperti doa nabi Ibrahim yang tertulis dalam Al Qur'an : 
    "Ibrahim berdo'a, "Ya Tuhanku, berikanlah ilmu kepadaku dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang setelahku, jadikan aku orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, ampunilah ayahku, sesungguhnya ia termasuk orang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (Q.S. Asy-Syu'ara 26 : 83-89)


Dua hal yang utama agar bisa menjadi orangtua yang shaleh adalah dengan mengetahui terlebih dahulu kewajiban terhadap anak dan juga ciri-ciri orangtua yang shaleh.

I. Kewajiban orangtua terhadap anak

Sebagai orangtua, kita wajib mendidik anak, menyiapkan masa depannya, bagaimana kita menyiapkan bekal agar anak-anak kita siap menghadapi tantangan di zaman nya, dan mengajarkan akhlak yg baik, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'an :
"Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar." (Q.S. An-Nisa 4 : 9)

II. Ciri orangtua yang shaleh:

  1. Memberi teladan yang baik.
  2. Berlaku adil terhadap semua anak.
  3. Mendidik dengan kasih sayang. Rasulullah bersabda, "Ciumlah anak cucumu, karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga" (H.R.Bukhari). Ada 5 Bahasa cinta, yaitu : katakan, sentuhan, hadiah, kejutan, dan doa.
  4. Mengutamakan musyawarah, alias tidak boleh otoriter, karena anak kita harus dihargai juga pendapatnya, prinsipnya, dll.


Lalu, bagaimana caranya untuk bisa menjadi orangtua shaleh? 
Kiat atau cara menjadi orangtua yang shaleh adalah sebagai berikut :


  1. Memiliki wawasan tentang pendidikan, misalnya dengan cara menghadiri acara-acara parenting. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an :  
    "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani akan diminta pertanggungan jawabnya."  (Q.S. Al Isra 17 ; 36)
  2. Mensyukuri anak sebagai anugrah. Oleh karenanya, kita harus selalu memberikan yang terbaik pada anak-anak. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an :  
    "Orang orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'" (Q.S. Al-Furqan 25; 74)
  3. Posisikan anak sebagai amanah. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an sebagai berikut:  

    "Hai orang-orang beriman! jangan kamu khianati Allah dan Rasul dan jangan kamu khianati amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu mengetahui. Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar." ( Q.S. Al-Anfal 8 ; 27-28)
  4. Sabar dalam mendidik anak, seperti sabar yang dijelaskan dalam Al Qur'an :
    "Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, Tetaplah waspada dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Q.S. Ali Imran 3 ; 200)


Itulah catatan yang saya rangkum mengenai kiat atau cara Menjadi Orangtua Yang Shaleh.. Semoga bermanfaat..


Sumber : Kajian Majelis Percikan Iman oleh Ust.Aam Amiruddin
Sumber gambar : google.co.id

Copyright © 2015 Catatan Kajian Majelis Taklim Bandung
| Distributed By Gooyaabi Templates